contoh text misa minggu paskah ke VI

 

 

 

Kepel “St. Petrus & Paulus”

        Kampung Jawa

     Jln. Gn. Merbabu No. 2,

                Samarinda

 

 

ANTIFON PEMBUKA

Beritakanlah kabar sukacita supaya didengar, siarkalah sampai ke ujung bumi: Tuhan sudah menebus umat-Nya, alleluya.

TUHAN KASIHANILAH

MADAH KEMULIAAN

DOA PEMBUKA

 

I     Marilah berdoa.

           Allah yang Maha Pengasih, pandanglah umat-Mu yang sedang berhimpun ini dan curahilah dengan Roh Kudus-Mu. Semoga, dengan pencurahan Roh Kudus itu, kami dapat melaksanakan hukum kasih yang diperintahkan oleh Yesus Kristus, Putra-Mu. Sebab, Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Diaku dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

LITURGI SABDA

 

BACAAN PERTAMA                 Kis. 8:5-8.14-17

kedua rasul itu menumpangkan tangan diatas mereka, lalu menerimakan Roh Kudus

L    Pembacaan dari Kisah Para Rasul

Waktu terjadi penganiayaan terhadap jemaat di Yerusalem, Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua menerima apa yang diberitakannya itu dengan sebulat hati. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat, keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan keras suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan timpang disembuhkan. Maka, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa tanah Samaria telah menerima Firman Allah. Mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke sana. Setibanya di sana, kedua rasul itu berdoa supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab, Roh Kudus belum turun atas seorang pun d iantara mereka karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudia, Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas orang-orang yang percaya itu, dan mereka meneirma Roh Kudus.

Demikianlah Sabda Tuhan.

 

MAZMUR TANGGAPAN

Ulangan : Pujilah Allah Alleluya, Alleluya.

 

Ayat :

1.   Bersoraklah bagi Allah hai, seluruh bumi; mazmurkanlah kemulian nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah,”Betapa dahsyat perkerjaan-Mu.

  1. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, seluruh bumi memazmurkan nama-Mu. “ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia.

3.   Ia mengubah laut menjadi kering, danorang berjalan kaki diatas sungai. Oleh sebab itu, kita bersuka cita karena Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya

4.   Marila, dengarlah, hai kamu sekalian yang takwa kepada Allah, aku hendak menceritakannya apa yang dilakukan-Nya terhadapku. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku, dan tidak menjaukan kasih setia-Nya dari padaku

BACAAN KEDUA              1Ptr 3:15-18

Yesus telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi dibangkitkan menurut Roh

 

L    Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus

 

        Saudara-saudara terkasih, kuduskanlah Kristus dalam hatimu sebagai Tuhan! Bersiapsedialah setiap saat untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu. Tetapi, semua itu haruslah kamu lakukan dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murnisupaya karenahidupmu yang saleh dalam Kristus, mereka yang memfitnah kamu menjadi malu karena fitnah mereka itu. Sebab lebih baik mederita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki oleh Allah, daripada menderita karena berbuat jahat. Sebab Kristus pun telah mati satu kali untuk segala dosa kita. Ia yang benar telah mati untuk orang-orang yang tidak benar supayaIa membawa kita kepada Allah; ia telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi dibangkitkan menurut Roh.

Demikianlah Sabda Tuhan

Alleluya

S    Alleluya                 U Alleluya

S    Siapa yang mengasihi Aku akan hidup menuruti Sabda-K; Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya.

U Alleluya

BACAAN INJIL                   Yoh 14 15-21

Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.

I     Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes :

      Pada perjamuan malam terakhir, Yesus berkata kepada para murid-murid-Nya, “Jikaulau engakau mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran, supaya Ia menyertai kamu selam-lamanya. Dunia tidak tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan mengenal Dia. Tetapi, kamu mengenal Dia sebab Ia menyertai kamudan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kembali kepadmu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak melihat Aku lagi. Tetapi, kamu melihat Aku sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku ada di dalam Bapa-Ku bahwa kamu ada di dalam Aku, dan Aku ada di dalam kamu. Barang siapa memegang printah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan, barang siapa yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun mengasihi dia, dan akan menyatakan diri-ku kepadanya.”

Demikianlah Injil Tuhan  

HOMILI

SYAHADAT

DOA UMAT

I     Kristus menjanjikan kepada kita kedatangan Roh Penghibur, yakni Roh Kudus. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan semua yang telah di katakan-Nya kepada kita. Dengan tuntunan Roh Kudus, marilah kita memanjatkan doa kepada Bapa di Surga.

 

L    Bagi Gereja Kristus

      Ya Bapa, dampingilah Gereja-Mu dalam menantikan dan menerima janji Kristus akan Roh Kudus sehingga semakin teguhlah iman, kasih dan pengaharapan kami dalam mewartakan karya kasih-Mu bagi dunia.

      Marilah kita mohon…

U   Utuslah Roh Kudus-Mu memperbaharui kami, umat-Mu, ya Tuhan.

L    Bagi persoalan-persoalan besar di dunia dewasa ini.

      Ya Bapa, utuslah Roh Kudus-Mu menerangi setiap langkah hidup kami selalu menghormati setiap martabat pribadi manusia dan siap sediamembukakan kesempatan-kesempatan hidup bagi semua orang.

      Marilah kita mohon…

U   Utuslah Roh Kudus-Mu memperbaharui kami, umat-Mu, ya Tuhan.

L    Bagi semua yang menderita.

      Ya Bapa, teguhkanlah pengharapan orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Semoga kasih-Mu melalui kebaikan hati banyak orang yang mengasihi mereka secara tulus

      Marilah kita mohon…

U   Utuslah Roh Kudus-Mu memperbaharui kami, umat-Mu, ya Tuhan.

L    Bagi kita sendiri.

      Ya Bapa, semoga berkat pelayanan Ekaristi ini, kami semakin rukun bersatu dengan kata dan karya penyelamatan

      Marilah kita mohon…

U   Utuslah Roh Kudus-Mu memperbaharui kami, umat-Mu, ya Tuhan.

I     Allah Bapa kami, sebelum sengsara-Nya Putra-Mu telah mendoakan para murid agar mereka bersatu seperti Engkau dan Dia satu adanya. Berilah kami kesatuan Roh Kudus-Mu untuk berkerja sama membangun kesatuan atas dasar cinta kasih, di dalam Dikau, Putra-Mu dan Roh Kudus sepanjang segala masa

U   Amin

           

            LITURGI EKARISTI

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

I     Ya Allah, berkenanlah menerima roti dan anggur persembahan kami ini. Kami mohon, teguhkanlah kami dalam cinta kasih-Mu dan penuhilah kami dengan Roh Kudus-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami

U   Amin

PREFASI PASKAH V

ANTIFON KOMUNI         Yoh 14: 15,16

I     jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuriti perintah-Ku, Sabda Tuhan. Aku akan minta kepada Bapa, dan ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, alleluya

 

 

DOA SESUDAH KOMUNI

 

I   Marilah kita Berdoa:

     Allah Yang Maha Kuasa dan kekal, dengan kebangkitan Kristus Engkau memulihkan kami untuk hidup abadi. Lipatkanlah buah-buah sakramen Paskah dalam diri kami dan kuatkanlah hati kami dengan santapan keselamatan ini. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

U   Amin

 

Iklan

CONTOH TESK MISA UNTUK PASKAH V

santo-petrus-dan-paulus

Kepel “St. Petrus & Paulus”
Kampung Jawa
Jln. Gn. Merbabu No. 2,
Samarinda

ANTIFON PEMBUKA
Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan sebab ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; ia telah menyatakan keadilan-Nya di depan bangsa-bangsa. Alleluya

TUHAN KASIHANILAH
MADAH KEMULIAAN
DOA PEMBUKA

I Marilah berdoa.
Allah yang maha kuasa dan kekal, Engkau berkenan memperbaharui kami dengan pembabtisan kudus. Sempurnakanlah sakramen Paskah ini dalam diri kami supaya berkat perlindungan-Mu kami menghasilkan banyak buahdan Engkau perkenankan mencapi sukacita abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

LITURGI SABDA

BACAAN PERTAMA Kis 6:1-7

Meraka memilih tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus
L Pembacaan dari Kisah Para Rasul
Di kalangan jemaat Yerusalem, ketika jumlah murid semakin bertambah, timbulah sungut-sungut di antara orang-orangYahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang orang Ibrani.

Karena dalam pelayanan sehari-hari pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan. Berhubung dengan itu kedua belas Rasul memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Kami tidak merasa puas karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara pilihlah tujuh orang dari antarmu, yang terkenal baik dan penuh dengan Roh dan hikmat supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu sehingga kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanaan Firman. “Usul itu diterima baik oleh semua jemaat. Lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada para rasul; lalu para rasul berdoa dan meletakan tangan di atas mereka Firman Allah semakin tersebar, dan jumlah murid di Yesrusalem semakin banyak, juga sejumlah imam besar menyerahkan diri dan percaya.
Demikianlah Sabda Tuhan

MAZMUR TANGGAPAN
Ulangan : Kita memuji Allah kar’na cinta-Nya

Ayat :
1. Bersorak-sorailah dalam Tuhan hai orang benar!, Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah dengan gambus sepuluh tali.
2. Sebab, Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu,dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilaan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
3. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa, kepada mereka yang berharap pada kasih setia-Nya; ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
BACAAN KEDUA 1Ptr 2:4-9
Kamulah bangsa yang terpilih, kaum Imam
yang rajawi.

L Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus

Saudara- saudara terkasih, datanglah kepada Kristus, batu yang hidup, yang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu pun dipergunakan sebagai batu yang hidup untuk pembangunan rumah rohani, yang berkenan kepada Allah karena Yesus Kristus. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, aku meletakan di Sion sebuah batu terpilih, sebuah batu yang mahal, dan siapa yang percaya kepadanya tidak akan dipermalukan.” Karena itu, bagi kamu yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya, “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; juga telah menjadi batu setuhan dan batu sandungan.” Mereka tersandung padanya karena mereka tidak taat pada Firman Allah; dan memang sudah ditentukan untuk itu. Tetapi, kamu bangsa yang terpilih, kaum Imam yang rajawi, bangsa Kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Maka kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah. Ia telah memanggil kamu keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan.
Demikianlah Sabda Tuhan
Alleluya
S Alleluya U Alleluya
S Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak seorang pun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui aku.
U Alleluya
BACAAN INJIL Yoh 14 1-12
Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.
I Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes :
Dalam Amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid murid-Nya, “Jangan gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu aku mengatakan kepadamu. Sebab, Aku pergi kesana untuk menyediakan tempat bagimu. Dan, apabila aku telah pergi ke sana dan telah menyediakan tempat tinggal bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu datang ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada kamu pun berada. Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan kesana.” Kata Tomas kepada-Nya, Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?” Kata Yeus kepadanya, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun dapat pergi kepada Bap-Ku kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu telah mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia. “Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan tunjukalah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.”Kata Yesus kepadanya, “ Telah sekian lama Aku bersama engkau, Filipus, namun Engkau tidak mengenal aku? Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa, bagaimana engkau berkata : Tunjukalah Bapa kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu tidak aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan perkerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya percayalah karena perkerjaan-perkerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga perkerjaan-perkerjaan yang aku lakukan, bahkan perkerjaan-perkerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.
Demikianlah Injil Tuhan
HOMILI
SYAHADAT
DOA UMAT
I Kristuslah jalan, kebenaran, dan hidup kita. Marilah kita berdoa kepada Bapa di surga agar kita selalu terarah kepada Kristus dan mampu menunjukan jalan keselamatan itu kepada sesama.

L Bagi Paus, para Uskup, dan Para imamdan semua saja yang mempunyai tugas dalam pelayanan gereja. Ya, Bapa semoga kebenaran Sabda-Mu tampak dalam diri para pemimpin Gereja-Mu
U Semoga mereka sungguh mampu menuntun kami menuju jalan, kebenaran, dan hidup kami, yakni Kristus, Putra-Mu.
L Bagi para pejabat pemerintahan.
Ya Bapa, semoga para pejabat pemerintahan merintis jalan bagi rakyat untuk mencapi keadilan, perdamaian, dan kerukunan.
U Semoga kami semua beroleh keselamatan yang telah Kaujanjikan di dalam diri Yesus Kristus, Putra-Mu
L Bagi saudara-saudara kita yang lapar dan sebatang kara, yang miskin dan hina dina.
Ya Bapa, semoga dalam hidup saudara-saudari kami yang kurang beruntung itu, martabat serta harapannya dipulihkankarena usaha kami bagi mereka.
U Dan, kami pun senantiasa giat berjuang untuk berbagi hidup bagi keselamatan dan kesejahteraan sesama kami, khususnya bagi mereka yang menderita dan tak berdaya.
L Bagi umat Kristiani yang berkumpul di tempat ini dan dimana saja.
Ya Bapa, semoga kami semua menyadari panggilan untuk membahagiakan
U Dan, semoga panggilan itu tetap kami yakini dan kami ikuti walaupun mendapatkan pengalaman-pengalaman yang mengecewakan
I Allah , Bapa kami, tinggalla berserta kami oleh Putra-Mu dan semoga Putra-Mu menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi kami semua, sekarang dan selama-lamanya.
U Amin

LITURGI EKARISTI
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN
I Ya Allah, Putra-Mu menjadi manusia dan mengurbankan diri-Nya supaya kami mendapat bagian dalam keilahian-Mu yang mulia. Kami mohon, semoga dengan pertukaran agung ini kami memahami kebenaran yang Engkau ajarakandan mengamalkannya dalam prilaku yang pantas. Dengan pengantara Kristus Tuhan kami.
U Amin
PREFASI PASKAH V
ANTIFON KOMUNI Yoh 15: 1,5
I Akulah pokok anggur yang benar dan kamulah ranting-rantingnya, Sabda Tuhan; siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak. Alleluya.

DOA SESUDAH KOMUNI

I Marilah kita Berdoa:
Ya Allah Engkau telah menyegarkan umat-Mu dengan misteri surgawi. Kami mohon, buatlah kami beralih dari hidup yang lama ke hidup yang baru. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.
U Amin

DAYAK IS THE GREAT CULTURE

who is “Dayak Kenyah?” Bagi kebanyak orang khususnya yang tinggal di Kalimantan Timur, kata atau Suku Dayak mungkin sudah cukup dikenal.  Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa suku Dayak terdiri dari lebih 18 kelompok etnis, yang bahkan memiliki bahasa yang sangat berbeda. Salah satu dari 18 kelompok  etnis tersebut adalah Dayak Kenyah Berbeda halnya dengan kata ‘dayak’, arti dan asal-usul kata “kenyah” sampai sekarang belum diketahui dengan pasti maknanya, sejak kapan digunakan dan berasal dari kata dasar apa. Istilah ‘kenyah’ adalah sebuah istilah yang sulit dijelaskan karena kurangnya referensi tentang kata tersebut.  Bahkan dalam bahasa Kenyah sekalipun kata ‘kenyah’ tidak ditemukan atau tidak memiliki makna tertentu. Beberapa narasumber yang diwawancarai juga belum dapat memberikan penjelasan mengenai asal-usul dan makna kata ‘kenyah’.  Okushima (2008) hanya menjelaskan bahwa kata “kenyah” mungkin berasal dari kata “ken’eah”, yang intinya adalah ‘Kenyah’ not only for the so-called Kenyah, but also for Kayanized subgroups, meaning ‘not pure Kayanic,’ or ‘not original Ga’ay yang berarti bahwa Kenyah tidak hanya dipakai untuk nama suku Kenyah saja, tetapi juga untuk menamakan sub-Kayan lainnya yang “tidak murni Kayan atau bukan berasal dari Ga’ay”. Karena belum ada makna harafiah dari kata ‘kenyah’, beberapa peneliti mencoba mendeskripsikan kata ‘kenyah’ dari cara hidup dan ciri-ciri umum kelompok suku ini.  Seorang peneliti Jepang, Inoue (2000) dan Italia Soriente (2003) mendeskripsikan ‘kenyah’ sebagai sekelompok orang yang hidup di pedalaman Borneo atau Apau Kayan dan Sarawak. Kenyah mencakup berbagai sub-suku yang secara etnik, kultural, maupun asal-muasal berbeda.  Kata ‘Kenyah’ tidak dapat dijelaskan dengan satu rumusan saja, harus meliputi berbagai ciri yang ditemukan pada kelompok tersebut.  Selanjutnya Cleary dan Eaton (1993) mendeskripsikan suku Kenyah berpenampilan energik, bergerak cepat, tubuhnya berotot tapi ramping, kulit bersih dan bebas dari penyakit kulit. Sedangkan ‘Apau Kayan’ adalah dataran tinggi di hulu S. Kayan yang meliputi areal seluas 10.000 km2.  Saat ini Apau Kayan meliputi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, S. Boh, Bahau Hulu,  Mentarang Hulu dan sebagian Sarawak (Malaysia). Dari aspek linguistik atau bahasa yang digunakan, suku Dayak dibagi ke dalam 5 grup, salah satunya adalah ‘Kayan-Kenyah’, termasuk suku ‘Kenyah’.  Suku Bahau, Modang, Aoheng juga termasuk dalam klasifikasi tersebut.  Dari aspek linguistik tersebut terlihat bahwa ‘kenyah’ termasuk kedalam grup ‘Apau Kayan’ atau ‘Kayan-Kenyah’.  Klasifikasi berdasarkan linguistik yang dikemukakan oleh Devung (2001) adalah Barito Timur, Barito Mahakam, Apo Duat (Apau Da’a) dan Rejang-Baram. Pembagian Sub-sub Suku Kenyah dan Arti Nama Suku/lepo Dari uraian terdahulu bahwa rumah panjang atau uma’ yang ada di kampung Apau Da’a berjumlah 40 buah, dimana tiap-tiap rumah panjang diisi oleh kelompok yang memiliki dialek/bahasa yang sama.  Tidak diketahui dengan jelas bagaimana nama ”kenyah” muncul dari sekitar 40 uma’ yang ada.  Namun diperkirakan bahwa uma’-uma’ yang memiliki dialek yang sama, merekalah yang masuk dalam sub suku Kenyah. Bagaimana sejarah timbulnya nama-nama sub-suku tersebut? Dari beberapa narasumber yang diwawancarai maupun dokumen tertulis, nama-nama sub-suku tersebut dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) versi yaitu: (1)   Nama berdasarkan letak atau kondisi rumah panjang (umaq) yang ditinggali masing-masing kelompok, misalnya Uma’ Lasan karena halaman rumah mereka lasan atau tidak berumput, atau Uma’ Alim karena di depan rumah ada pohon alim (kwini), dan seterusnya yang akan dijelaskan lebih detail di bagian bawah. (2)   Nama berdasarkan jenis tumbuhan, akar atau liana yang menjadi ciri khas pada setiap bekas pondok (belaka lepau) masing-masing kelompok pada saat mereka menjelajahi hutan untuk berburu dan meramu hasil hutan sebagai pertanda ”otoritas suatu wilayah” agar tidak menimbulkan saling curiga yang dapat berakibat terjadinya perang saudara. Sebagai contoh, Lepo’ Tukung, biasanya mengikat  aka betukung pada bekas pondok yang ditinggal.  Jika ada kelompok lain melihat tanda ini, mereka mengerti bahwa bekas pondok (belaka lepau) ini milik Lepo’ Tukung, demikian juga Lepo’ Bakung, dst. (3)   Nama berdasarkan kebiasaan dan kondisi masing-masing kelompok seperti misalnya Lepo’ Ke, kelompok ini biasanya telaten meke atau mengikis sampai sampai halus sesuatu yang dibuat, misalnya kerajinan rotan atau perkakas kayu.  Demikian juga Lepo’ Kuda’, dalam bahasa Kenyah dan bahasa Dayak lainnya seperti Lundayeh. kudaq berarti ’berapa’.  Konon diantara sub-sub suku Kenyah, anggota kelompok ini relatif kecil sehingga sub-suku lain sering menanyakan ’berapa’ atau ’kuda’ jumlah anggota kelompok ini. (4)   Nama berdasarkan tempat spesifik dimana kelompok tersebut pernah membuat rumah untuk menetap sementara waktu, misalnya nama Lepo’ Ma’ut merupakan nama satu dataran tinggi (apau) yang bernama Apau Ma’ut, dsb. Secara harafiah, arti kata ‘Lepo’’  (sebagian peneliti menulisnya leppo’) adalah ‘kampung’ atau ‘desa’ sedangkan uma’ adalah ‘rumah panjang’.  Namun dalam pemakaiannya untuk menyebutkan nama salah satu sub-suku Kenyah seperti Lepo’ Tau atau Uma’ Baka, pengertian kedua istilah tersebut sama saja, tidak ada perbedaannya, keduanya menunjukkan nama salah satu sub-suku Kenyah. Kata uma’ dipakai pada waktu kelompok tersebut masih bergabung dengan sub-suku lainnya di kampung Apau Da’a, sedangkan kata lepo’ mulai dipakai setelah masing-masing uma’ berdiri sendiri membentuk satu desa atau lepo’. Namun dari asal-usulnya, Soriente (2003) menyatakan bahwa kata ‘lepo’ dipakai untuk satu kelompok etnis yang keberadaannya dimulai dari kesatuan atau gabungan beberapa ‘uma’ atau rumah panjang.  Sedangkan etnis yang namanya memakai nama ‘uma’, keberadaannya dimulai dari hanya satu rumah panjang (uma’) saja.  Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa sub-etnis yang namanya dimulai dengan kata ‘lepo’ memiliki populasi lebih besar dibandingkan sub-etnis yang memakai kata ‘uma’. Berdasarkan kebiasaan juga, dua sub-suku tidak memakai kata Lepo’ atau Uma’ di depan nama sub-suku yaitu Bakung dan Badeng.  Keduanya dapat saja memakai salah satu kata tersebut di atas namun tidak digunakan. Arti nama masing-masing sub-suku berasal dari keterangan lisan beberapa narasumber, dan mungkin saja ada pendapat lain dari arti nama sub-suku tersebut sehingga apa tertulis di sini tidak bersifat mutlak.  Beberapa contoh arti nama sub-suku tersebut antara lain. (1)         Bakung.  Nama ‘bakung’ berasal dari 3 versi.  Yang pertama, berasal dari nama sebuah rawa (bawang) di hulu Sungai Iwan.  Rawa Bakung ini merupakan tempat yang pertama ditinggali suku Bakung setelah memisahkan diri dengan kelompok atau sub-sub suku lainnya di Apau Daha. Yang kedua, berasal dari nama akar ’bakung’ yang biasa diikatkan pada bekas pondok (belaka lepau) kelompok ini, dan yang ketiga dan  kemungkinan besar merupakan asal nama bakung adalah nama Sungai (alo) Bakung di hulu S. Bahau dimana kelompok ini pernah menetap setelah pindah dari S. Belaga-S. Baram (Malaysia) dan kemudian ke Sungai Bakung. (2)         Badeng.  Sama seperti “Bakung” yang tidak menggunakan kata lepo’ atau uma’ di depan nama sub-sukunya.  Belum ada informasi yang dapat dipercaya mengenai asal-usul nama Badeng. (3)         Lepo’ Kulit.  Pada waktu tinggal dalam satu kelompok besar dengan suku lainnya di Apau Da’a (Daha) di hulu Sungai Iwan, rumah panjang kelompok ini terbuat dari kulit kayu, sehingga dinamakan Lepo’ Kulit. (4)         Lepo’ Maut.  Secara harafiah, dalam bahasa Kenyah Lepo’ Ma’ut adalah lawan kata dari Uma’ Lasan. Di halaman rumah kelompok ini ada lahan tertentu yang memang dibiarkan ditumbuhi semak yang merupakan sebuah pertanda khusus.  Versi lainnya menurut Lahang dan Njau (1999), nama Lepo’ Ma’ut berasal dari nama sebuh dataran tinggi dimana kelompok ini pernah menetap sementara waktu yaitu ’Apau Ma’ut’. (5)         Lepo’ Tepu.  Kelompok ini terkenal dengan kebiasaanya menanam tebu di sekitar rumahnya sehingga dinamakan Lepo’ Tepu atau rumah yang memiliki banyak tebu. (6)         Lepo’ Jalan. Letak rumah kelompok ini berada di muara Sungai Jalan ketika masih menetap di Apau Da’a.  Kata ‘jalan’ dapat juga berasal dari nama sejenis hewan kecil bernama ‘jalan’ . (7)         Lepo’ Tau.  Menurut seorang tokoh Lepo’ Tau, kata ‘tau’ berasal beraka’ tau, yaitu sebuah tugu (belawing) kayu setinggi sekitar 2 m yang dibelah empat pada ujungnya untuk meletakkan telur ayam (padau) kemudian diserut (serbu) yang dipakai untuk melihat jalannya matahari (tau) untuk menentukan musim yang baik untuk mulai menugal (lihat juga Liman Lawai, 1999). (8)         Lepo’ Tukung.  Setiap bekas pondok (belaka lepau) kelompok ini selalu diberi tanda dengan mengikatkan sejenis akar yang disebut aka betukung, yang kemudian disebut tukung.  Jika orang menemukan bekas pondok di dalam hutan dan pada bekas pondok tersebut terdapat aka betukung, berarti ini bekas pondok ‘Lepo’ Tukung’ dan daerah itu berada di bawah otoritas Lepo’ Tukung. (9)         Lepo’ Nyibun.  ‘Nyibun’ dalam bahasa Kenyah berarti ‘jambu biji’.  Sumber yang dapat dipercaya mengenai asal-usul nama lepo’ ini belum ada, namun menyimak pemberian nama pada kelompok lainnya, ada kemungkinan di sekitar rumah panjang (uma’)kelompok ini terdapat banyak pohon jambu biji. (10)     Uma’ Baka.  Tidak diketahui dengan pasti asal kata “baka”, namun ada kemungkinan berasal dari kata “belaka” yaitu bahasa Kenyah yang berarti “kerangka rumah” atau rumah yang sudah tidak dipakai sehingga tinggal kerangkanya saja yang tersisa. (11)     Uma’ Lung.  Pengertian nama Uma’ Lung juga ada dua versi seperti nama sub-suku Kenyah lainnya.  Pengertian kata ‘lung’ dalam bahasa Kenyah ada dua yaitu: ‘muara sungai’ dan yang kedua berasal dari sejenis keladi hutan yang bernama ‘lung’.  Keladi hutan ini biasanya dipakai oleh suku Kenyah untuk menolak bala atau mengusir roh jahat.  Dengan demikian Uma’ Lung dapat berarti bahwa rumah kelompok ini berada di muara sebuah sungai ketika berada di hulu Sungai Iwan atau hulu Sungai Bahau.  Versi lainnya mengatakan bahwa ‘belaka lepau’ kelompok ini selalu ditandai dengan adanya sejenis keladi ‘lung’ yang diikat pada bekas pondok ketika bertualang (san) di dalam hutan


Catholic mission work began in the southern part of East Kalimantan, Mahakam river area . The first third of the missionaries who started at the Capuchin order Laham stations in June 1907. They are Libertus Cluts Capuchin Father , Father Camillus and Brother Ivo Buil Capuchin Capuchin . At first the missionaries would begin mission work in other villages , for example Mamahak Large or Long Iram , but eventually the village Laham chosen because the population at that time 96 people . The arrival of the missionaries were welcomed with a rousing reception but instead they received as a stranger . Villagers even be ” JUST WAIT ” until it becomes clear what the intent was approached three Dutchmen their village . Even so the people in the village Laham help the missionaries to build a simple rectory and a small chapel . But no one ever came Dayaks to one Pastor and told him that he would become a Christian . No one Dayak who thinks about it . But they began to appreciate the missionaries as people who “VERY KIND ” , which is always ready to help with drug or saline , which sometimes does not exist .

After three years the missionaries began to establish schools as simple as building a rectory . The school was to be filled with students . That is the difficulty . Kampongs community schools do not need to look at ; person does not need to learn in school to become a diligent farmer or a mother who gave birth to a healthy child . Father sometimes have to wear a subtle coercion , as well as ” hard hand ” of an employee of the Dutch Government . There are employees who agree with the pastor , but there also agree with the anti- school Dayaks . But pastors move on , not to be outdone ; education of the Dayak must dinomorsatukan . Many villages around Laham visited the pastor to find the child , the prospective student ‘s first Catholic elementary school in the area . At school is called the name of Jesus , His Gospel , and His death discussed , but no one who lured children to enter the Catholic Church . The first missionaries were very careful about baptism school children . New January 6, 1913-6 years after the missionaries arrived in Laham – 4 boys high school students baptized . In 1924 there were 6 of the first Catholic marriage blessed . Mission forward , but only “step by step ” , not ” in the march tempo ” . Laham washing in water does not flow like a rushing river ; washing water just dripped .

Outside the mission work in the area Laham , Capuchin Order also work in West Kalimantan and attention to the work of missions around the island of Sumatra . All these tasks deemed too heavy for the Capuchin Order . On August 13, 1924 in the Superior Province of the Order of Capuchin Nederland sent a letter requesting the assistance of the Congregation of the MSF mission in the Grave . On January 12, 1925 putter General MSF wrote back and told , that MSF is willing to take over the majority of the Apostolic Vicariate of Pontianak . In the tempo soon became clear that MSF later to take over the region of East Kalimantan and South Kalimantan ( at that time belonged to the South Kalimantan Central Kalimantan ) . All members of the Congregation MSF , especially in the Netherlands , cheering . Although there is no a general board member who knew nothing about foreclosed Kalimantan , but it was not considered important ; important area has its own mission .

msf – belanda.jpg

Finally, important decisions are taken . 2 putter and 1 brother sent a pioneer in the mission area of Borneo . On January 1, 1926 Pastor Fr . MSF Groot , Pastor J. Van de Linden MSF and Br . Egidius Stoffels taking a ship from Amsterdam and got Laham on February 27, 1926 . They do not have the experience of a mission , but their heart is a missionary heart .

Third missionaries begin the mission with MSF to continue the work of the Capuchin missionaries ( including schools ) . But in the not too distant future it is clear , that the village Laham less well regarded as a mission base . Tering village opened in 1928 as a station centrum Mission . Before World War II broke out in Indonesia (1941-1945) , some stations have been opened : Balikpapan , Samarinda , Tarakan , Tiong Ohang , Pahangai Long , Long Pakaq , Barong Tongkok and Banjarmasin ( South Kalimantan ) .

msf – pertama.jpg

Since 1926, the priests , brothers and sisters betul2 diligently develop their mission area . But this does not get a positive response from the General Council of MSF in the Grave . The board members are very disappointed about the outcome of the MSF mission in the area , they thought that many Dayaks in 1926 that are waiting to be baptized , when in fact none of the Dayaks are to be baptized . Instead many priests and brothers were sent from the Netherlands ; many workers reaper , but in the opinion of the Board of MSF harvest too less . Especially P. Trampe – Superior General MSF – very disappointed .

In 1929, MSF has sent Father Fr General Kouwenhoven , Missie Procurator , as his deputy ” TO LOOK ON THE SPOT ” . Incidentally his time in Java, there was held a meeting of the bishops in Girisonta ; putter Kouwenhoven was invited to attend the meeting . In this meeting P. Kouwenhoven opportunity to continue their disappointment to the meeting and bold preaching , that the General Council think of the closing work of the MSF mission in the interior of Borneo . All participants of the meeting protesting , do not agree with the General Council of MSF . The meeting participants advising MSF to move forward with faith , hope and love . God will give the growth . Every beginning is always difficult . Thanks to advice from experienced missionaries , MSF General Council finally bury negative thoughts about missions in Borneo .

By the time World War II broke out , all the priests and brothers of MSF , plus 4 sisters of the Congregation Servant Francis who served in stations tering Laham and captured by the Japanese . They are Pastor Fr . Arts, Fr Th . Van Diepen , Pastor J.v.d. Linden, A. Gielens Pastor , Fr Th . Jansen , Pastor J. Romeijn , G. Slot Father , Father J. Ogier , Pastor J. Hagens , Pastor M. Schellekens , Pastor HVD Salm , M. Schoots Father , Father W. Leeferink , Br . Damiaan Leune , Br . Egidius Stoffels , Br . Felix Botman , Br . Longinus Siebers , Sr. . Liguoria M. de Wert , Sr. . Rogeria Vissers , Sr. . Agnella v.d Hoogen and Sr . Veridiana Verhagen .

3 MSF priest , Father A. Janmaat , Pastor CVD Hoogte and Father Fr.v.d. Linden Japanese soldiers killed in early 1942 in Aberdeen and one brother MSF is Brother Egidius Stoffels died in Samarinda as prisoners ; others liberated by Australian troops in September 1945 . After the war ended , the sisters of the Congregation Servant Francis did not return to East Kalimantan , while most of the missionaries MSF will not go on holiday to the Netherlands , but they want to come back as soon as possible to the stations , which had been abandoned since 1942.

For approximately 3.5 years of Catholics living in the mission area without a shepherd , they can not receive the sacraments , and they feel themselves as a people forgotten by . Missionaries at the detention camp worried about the fate of their young people his faith . They alleged that some of them have returned to the old custom . But it turns out the other at all . Everywhere Catholics remain loyal , even in the pit of a cascade of Mahakam thousands of religious study . All missionaries welcome. ” THANKSGIVING TO GOD ” .

In connection with the above events , I would like to quote the post Mgr . M. Coomans MSF : ” MOST IMPORTANT EVENTS DURING JAPANESE OCCUPATION OF EVENTS THAT ARE IN THE UPSTREAM cascade ” . Event is meant that a group of people suddenly broke away from indigenous traditions simultaneously . That drives them is Nyurai , a villager in the tribal areas of Long Cihang Penihing ( upstream cascade ) . In 1943 the public are invited to leave customs . He assured the local people that the spirits that have been seen people inhabit caves in the mountain valley behind the village does not exist anymore . At first the people of Long Cihang not so ignore what people are almost blind . But he tirelessly continued to urge them to believe in the spiel . And to further convince the public that the spirits do not exist , he himself entered into the caves . When Bo ‘ Nyurai out of the caves , he remains in good health . From there then more and more people pay attention and believe in Bo ‘ are seen to act as a prophet . He often invited to other villages to share his experience . He himself did not enter the Catholic and never advocated the Catholic convert . Bo ‘ Nyurai died soon after the war , so the idea of ​​mind can not be investigated further . Obviously he recommends that people leave customs . Indigenous considered not binding anymore , because the spirits have left the area of the Dayak .

After World War II, the missionaries continue to work diligently ; mustard seed that had been planted before the war had grown into large that the birds nesting in its branches ( cf. Mat13 : 31 ) . Because of this in 1952 , Mgr . J. Groen MSF , Vicar Apostolic of Banjarmasin , send a request to Pope Pius XII that East Kalimantan separated from the Apostolic Vicariate Apostolic Vicariate used Banjarmasin and Samarinda . This request was denied by a smooth time Mgr . J. Groen died MSF and MSF Demarteau Father W. was appointed Vicar Apostolic of Banjarmasin . But the new vicar does not agree with the decision of Rome and repeated the same request before ordination as a bishop . To resolve this problem , Mgr . W. Demarteau summoned to Rome . Finally, in September 1954 Rome approved and on February 21, 1955 established the Apostolic Vicariate of Samarinda . The first Vicar Apostolic is Mgr . J. Romeijn MSF which was later replaced by Mgr . Chr . van Weegberg MSF ( years 1955-1976 ) , and Mgr . Coomans MSF ( years 1977-1992 ) and Mgr . Sului Florentinus MSF ( 1993 – present ) .

With the completion of this little history of the Diocese of Samarinda where sentenial feast is celebrated .

W.J. MSF Demarteau

Mari belajar mazmur tanggapan dengan rekaman mp3

 
Rekaman dengan kualitas seadanya pada link di bawah ini ditujukan untuk membantu siapa saja yang mau belajar mazmur tanggapan, terutama bagi kelompok yang tidak “terjangkau”, sehingga jarang sekali bisa ikut misa dan mungkin mengadakan ibadat sabda sendiri setiap minggunya.
 
Memang nada yang terdengar tidak 100 persen sempurna, tetapi mudah-mudahan bisa menuntun dalam bermazmur. Akan lebih bagus jika Anda memiliki buku Nyanyian Mazmur Tanggapan dan Alleluya.
 
Mohon maklum dengan suara kualitas vokal dan rekaman yang jauh dari bagus. Menyadari keterbatasan kami, kami menerima sumbangan rekaman yang lebih bagus untuk bisa menggantikan rekaman yang ada. Bagaimanapun juga, kemampuan membaca not tetaplah lebih baik. Namun, semoga link-link berikut dapat sedikit menuntun untuk belajar.

Silakan unduh teks mazmur tanggapan tahun A, B, dan C dalam format pdf maupun word document

Mazmur dalam waktu dekat
Tanggal Perayaan  
03 November 2013 Minggu Biasa XXXI unduh not angka
10 November 2013 Minggu Biasa XXXII unduh not angka
17 November 2013 Minggu Biasa XXXIII unduh not angka
24 November 2013 Minggu Biasa XXXIV
Hari Raya Yesus Kristus
Raja Semesta Alam
unduh not angka
01 Desember 2013 Minggu Adven I unduh not angka
08 Desember 2013 Minggu Adven II unduh not angka
15 Desember 2013 Minggu Adven III unduh not angka
22 Desember 2013 Minggu Adven IV unduh not angka
24 Desember 2013 Sore menjelang
Hari Raya Natal
unduh not angka
24 Desember 2013 Hari Raya Natal
Malam Natal
unduh not angka
  Maklumat Kelahiran
Yesus Kristus
 
25 Desember 2013 Hari Raya Natal
Fajar
unduh not angka
25 Desember 2013 Hari Raya Natal
Siang
unduh not angka
29 Desember 2013 Pesta Keluarga Kudus unduh not angka

Regional CaPOeIrA

The Owner of the Game: Mestre Bimba

Although many capoeiristas don’t like the idea of two different styles of capoeira coexisting inside the art, it’s clear, even for non-practitioners that there are really two paths leading to the same end. One way is the Capoeira Regional, more recent, one can say, created by Mestre Bimba in the early 30’s. The other path is the one called Capoeira Angola, claimed to be the traditional form of the art inherited from the slaves in its true form. The Angola style can be seen on the next page of this Web site. Here, the issue is Capoeira Regional.

The main reason to present it first is that the art became better known throughout the world after the activism of Manuel dos Reis Machado, a.k.a. Mestre Bimba, gave it a level of respectability. He was the first master to be allowed to have a registered practicing place in Salvador in 1932. This simple thing changed not only the image the art had to the public, but the whole course of capoeira to evolve into what it is today.

Mestre Bimba and former president Getulio Vargas

The simple act of Mestre Bimba to shake hands with populist president Getulio Vargas during the 30’s, and make a presentation to him at that occasion, may have caused more benefits to the art of capoeira than all the undeniable strength its masters combined to keep the art alive. It was the public recognition of its value and a ‘cart blanche’ to continue its development.

The Capoeira Regional has been labeled more as a “spectacle” than real capoeira throughout the time due to the many acrobatic movements that have been integrated to it since its creation by Mestre Bimba. Actually, it is possible to see capoeira shows performed in theaters and folkloric shows in Salvador in order to entertain the tourists. But that is not the real art.

Maybe that’s why there are no shows of Capoeira Angola in Salvador and anywhere in the world. Minimalist in its tone, it can’t offer the tourists the kind of amusement they expect. If Capoeira Angola could be compared with a theater style, it would certainly fit the description of the No Theater.

About these differences, I think Mestre Bola Sete, a disciple from the Angola style, gave the final word when he wrote in his book ‘A Capoeira Angola na Bahia’:

“…What differentiates Capoeira Angola from Capoeira Regional is, mainly, the philosophy used in both schools. The angola master cares to convey to his disciple the cults pertaining to the Capoeira Angola…endowing him with a great level of harmful subtlety…in which the capoeirista only attacks when the opportunity comes…the master of Capoeira Regional prepares his disciple to attack, making him more aggressive”.